Cemas Memikirkan Masa Depan? Dosen BK UNS Kembangkan Self-Help ACT untuk Membantu Mahasiswa Menghadapi Ketidakpastian Karier

Cemas Memikirkan Masa Depan? Dosen BK UNS Kembangkan Self-Help ACT untuk Membantu Mahasiswa Menghadapi Ketidakpastian Karier

Surakarta — Pertanyaan tentang pekerjaan setelah lulus, persaingan di dunia kerja, hingga kekhawatiran salah memilih jalan karier kerap memenuhi pikiran mahasiswa. Ketidakpastian tersebut dapat memicu career anxiety atau kecemasan karier yang memengaruhi kesejahteraan psikologis dan keberanian mahasiswa dalam mengambil keputusan. Merespons persoalan tersebut, Arifah Wulandari, M.Pd., dosen Bimbingan dan Konseling Universitas Sebelas Maret (UNS), mengembangkan penelitian berjudul “Overcome the Uncontrollable: Self-Help Acceptance and Commitment Therapy (ACT) untuk Mengatasi Career Anxiety pada Mahasiswa di Indonesia.” Penelitian ini memperoleh dukungan melalui skema Hibah Penelitian Dosen Pemula Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa mahasiswa menghadapi dunia karier yang terus berubah. Perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan industri, persaingan kerja, tuntutan kompetensi, dan banyaknya pilihan karier dapat membuat mahasiswa merasa tidak yakin dengan masa depannya. Sebagian mahasiswa bahkan terjebak dalam kekhawatiran berlebihan mengenai hal-hal yang belum tentu terjadi. Melalui pendekatan Acceptance and Commitment Therapy (ACT), penelitian ini diarahkan untuk mengembangkan media self-help yang dapat membantu mahasiswa menghadapi kecemasan karier secara lebih adaptif. ACT tidak sekadar mengajarkan individu untuk menghilangkan pikiran dan perasaan yang tidak nyaman, tetapi membantu mereka menerima pengalaman tersebut serta tetap mengambil langkah yang sesuai dengan nilai dan tujuan hidupnya.



Konsep “Overcome the Uncontrollable” mengajak mahasiswa memahami bahwa tidak semua hal dalam perjalanan karier dapat dikendalikan. Kondisi pasar kerja, keputusan perusahaan, persaingan, dan perubahan kebutuhan profesi mungkin berada di luar kendali mahasiswa. Namun, mereka masih dapat mengendalikan cara merespons, meningkatkan kompetensi, mencari pengalaman, membangun jejaring, dan menentukan langkah berikutnya. Media self-help yang dikembangkan diharapkan dapat digunakan mahasiswa secara mandiri dan fleksibel. Melalui latihan reflektif berbasis ACT, mahasiswa akan dibantu untuk mengenali pikiran yang memicu kecemasan, menerima perasaan yang muncul, memahami nilai-nilai karier, serta menyusun tindakan nyata menuju masa depan yang diinginkan.

Pengembangan media ini juga diharapkan dapat memperkuat layanan bimbingan dan konseling karier di perguruan tinggi. Konselor maupun pengelola layanan kemahasiswaan dapat memanfaatkannya sebagai pendamping layanan untuk membantu mahasiswa yang mengalami kebingungan, ketakutan, atau keraguan dalam merencanakan karier. Penelitian tersebut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya dalam meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis mahasiswa. Kecemasan karier yang dikenali dan ditangani sejak dini dapat mencegah munculnya tekanan psikologis yang lebih berat.



Kontribusi terhadap SDGs Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui pengembangan dukungan psikologis yang membantu mahasiswa menjalani pendidikan tinggi sekaligus mempersiapkan masa depannya. Pendidikan berkualitas tidak hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik, tetapi juga individu yang mampu menghadapi perubahan dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Penelitian ini juga berkaitan dengan SDGs Tujuan 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Kemampuan mengelola kecemasan, memahami potensi diri, dan mengambil langkah karier secara adaptif merupakan bekal penting bagi mahasiswa untuk memasuki dunia kerja dan menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi serta nilai dirinya.

Pengembangan self-help ACT menjadi salah satu wujud semangat Diktisaintek Berdampak. Penelitian perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi menghadirkan solusi yang dapat digunakan secara nyata oleh mahasiswa dan lembaga pendidikan. Melalui penelitian ini, mahasiswa diharapkan menyadari bahwa mereka tidak perlu menunggu seluruh rasa cemas menghilang untuk mulai melangkah. Ketidakpastian mungkin tetap ada, tetapi mahasiswa dapat belajar menerimanya, mengenali hal-hal yang masih dapat diupayakan, dan terus bergerak menuju karier yang bermakna.

  • 0 Comment(s)